Ruang Catatan Kaki

Inilah gerombolan catatan kaki. Saya tidak tahu siapa yang memotretnya. Seingat saya ini di acara Rakernas sekaligus baksos UKPM Pers di Enrekang, Sulawesi Selatan.

Ruangan itu ukurannya sekira 5 x 3 meter. Kaca nako jendelanya sudah ada yang lepas, besi penyangganya yang hilang, dan menunggu kaca lainnya jatuh berantakan. Karpet kusam warna merah yang tak pernah dicucinya berhampar  di seluruh ruangan.

Ada ruangan yang dipisahkan oleh lemari kayu. Juga kusam. Isinya buku-buku, majalah, kertas bahkan kerap baju bau daki dan kaos kaki.

Ruang terpisah itu hanya ada satu unit komputer bersistem DOS, WS, dan windows. Seringnya yang windows jadi sarana main games tertris.  Entah sudah sekian kali mendapat perawatan.

Ruangan itu adalah sekretariat Catatan Kaki alias Caka. Diterbitkan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKMP) Pers, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.  Di era orde baru, UKM kampus mulai diberdayakan agar mahasiswa kembali sibuk ke kampus usai dihapusnya NKK/BKK ala Presiden Soeharto saat itu.

Bukannya dibungkam, Caka justru malah jadi basis kritis. Saya gabung ke pers mahasiswa itu diajak oleh Anno Aldetrix. Sosok yang pernah sama-sama juga bikin Suara Manurung di Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Unhas.

"Caka kritis bos. Media perjuangan ini. Nda kayak identitas, isinya baik-baik mulu sama kampus. Mana berani mereka (identitas) demo kampus," kira-kira seperti itu yang Anno sampaikan ke saya sebelum masuk Caka sekira  tahun 1995 atau 1996. Dia saat itu ditapuk jadi Ketua UKM Pers.

Saya memang tertarik. Saat itu sudah mulai ikut gerakan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Ini kelompok yang kerap menyerang pemerintah Presiden Soeharto saat itu.

Taktik saya, untuk membangun pergerakan maka pers mahasiswa harus dikuasai terlebih dahulu. Dan Caka adalah sarana yang tepat. Di sini, anggotanya sudah digembleng perlawanan yang dibangun oleh  kelompok yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi alias AMPD.

Sosok yang saya kenal saat itu, ada Akbar Endra, Ostaf Al Mustafa, Isradi Zainal. Tiga orang ini kerap saya temui di rapat-rapat rencana aksi yang dihadiri para pentolan berbagai kampus di Makassar. Ada Selle Ks Dalle, Agus Baldie, Zakir Sabara Haji Wata dari Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ada juga dari Universitas 45, yang namanya agus, dan wahab.

Tapi Suparno tahu kalau saya aktivis yang mencoba menyebar 'virus" SMID untuk membuat gerakan nasional. Dan Suparno juga sosok generasi pertama yang sempat saya  susupi sosialisme demokrasi. Ini adalah ideologi SMID.

Saya juga orang yang paling banyak menentang keberadaan pers kampus Identitas. Isinya kegiatan kampus, dari kesuksesan mahasiswa, program baksos, hingga "noraknya" akademika rektorat.

Namun diam-diam saya juga mengirimkan tulisan soal sosialisme demokrasi yang era Presiden Soeharto menjadi ideologi yang paling ditakuti. Dua kali tulisan soal itu dimuat. Selanjutnya, tak pernah lagi ada kabarnya.

Ruangan Caka tak pernah sepi dari hiruk pikuk politik. Setiap jam dan setiap hari selalu berdebat. Bahkan sambil  makan bakso utangan saja, tetap saja berdagelan soal politik Soeharto.










Posting Komentar

0 Komentar