Katabelece Pers Mahasiswa


Dulu di tahun 1995, saya dan rekan Anno Aldetrix membuat majalah Suara Manurung. Isinya sastra melulu. Yang terbitkan himpunan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Majalah ini terbit tergantung donaturnya. Era prof Rady A, Gany menjadi Pembantu Rektor 1, beliau selalu menjadi korban donatur berupa selembar kertas putih oretan tangannya. Kawan saya Anno kerap menyebutnya "katabelece".

Katabelecenya moncer. Saya hanya berbagi tugas kepada reporter untuk dibawanya ke bupati daerahnya masing-masing. Balik ke kampus, pasti tidak mengecewakan. 100 sampai 300 ribu era itu, sudah sangat bahagia.

Biasanya, Prof Rady Gani hanya mau membuatkan maksimal empat bupati. Dan setiap mau keluar ruangannya dia selalu geleng-geleng kepala. "Kasih laporan ya bupatinya kasih berapa," ketus Prof. Saya selalu mengiyakan. Padahal dalam hati entahlah.

Begitu seterusnya setiap bulan. Korbannya selalu Prof Rady untuk meminta nota sakti itu. Bahkan ketika dia menjadi Rektor Unhas, saya kerap menemuinya. Mesam-mesem di ruangannya dia sudah bisa menebak maunya. "Dua nota aja cukup. Nih sisanya saya tambahin," ujarnya sambil menyerahkan nota berkop nama jabatannya dan amplop berisi uang.

"Ini prof ada bacaan bagus," saya memberikan lembaran kertas fotocopian.

Dia kaget. Lembaran kertas itu adalah Independen. Ini media alternatif yang isinya menghujat orde baru. Pasca pemblederan Tempo, Detik, dan Editor dan penangkapan aktivis Aliansi Jurnalis Independen, media alternatif sekelas Independen laku bak kacang di kampus.

Saya menjadi salah satu penjualnya. Selain saya, kawan Anno Aldetrix juga dapat kiriman yang sama langsung dari Jakarta. Setiap pengiriman saya mendapatkan 10 eksemplar. Permintaan banyak, maka saya fotocopi sebanyak-banyaknya. Dari jualan itulah, bisa untuk makan sehari-hari sebagai anak kost yang kiriman dari orang tua morat marit nafasnya.

"Kamu kalau jualan di kampus harus hati-hati. Jangan sampai ketangkap. Bisa kacau kuliahmu," ujar Prof Rady. Jawabannya sederhana. "Ya, nanti palingan demo lagi prof. Masa prof mau nyuruh supaya saya ditangkap," ujar saya saat itu.

Ya, sejak mahasiswa saya selalu tergembleng dengan media yang serba perjuangan. Usai di Manurung, saya ikutan di catatan kaki alias caka. Yang terbitin Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM).

Ini majalah begitu juga "Nafas" terbitnya. Mau terbit harus berjuang. Dari urusan printer, pinjam komputer, begadang nongkrongin percetakan, dan cari utangan untuk makan diri sendiri.


Posting Komentar

0 Komentar