Satu Hari Sebelum UMI Berdarah



Makassar,  23  April 1996.  Selama dua hari Jalan Urip Sumoharjo, Ujung Pandang (sebelum menjadi Makassar) ditumpahi mahasiswa dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Universitas 45. Dua kampus ini hanya berseberangan jalan. Tak ayal, jalan utama poros itu ditutup. Terjadi pembakaran ban di tengah jalan.

Situasi rada memanas, kerap terjadi keributan antara mahasiswa dan warga sekitar yang merasa terganggu dengan aksi tersebut. Aparat dari kepolisian setempat sudah membuat blokade jalan. Polisi meminta mahasiswa masuk kampus, tapi mahasiswa menolak. Mobil tangki milik Pertamina dijadikan panggung orasi.

Saat itu, aksi mahasiswa menolak  kebijakan pemerintah era Soeharto dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Perhubungan, Haryanto Dhanutirto tentang kenaikan tarif angkutan umum. Putusan itu diikuti SK Wali Kota Makassar, Andi Malik Baso Masry, Nomor : 900 tahun 1996 tentang penyesuaian tarif angkutan kota di kota Makassar.

Mahasiswa dari kampus lain, seperti Universitas Hasanuddin (Unhas) dan IKIP Makassar, juga menggelar aksi. Mahasiswa Unhas melakukan aksi jalan kaki sekira 5 kilometer untuk bergabung dengan UMI dan Universitas 45. Dari situ, mengarah aksi ke Gedung DPRD yang jaraknya sekira 1 kilometeri dari Kampus UMI.

Aksi di DPRD sempat bentrok. Mahasiswa dihadang kepolisian untuk tidak masuk gedung dewan itu. Tembakan mengarah ke udara."Dooorr.....dooorrrrr,"  Para aksi pontang panting. Mahasiswa melempari batu yang mengarah ke polisi dan gedung dewan. Mahasiswa mundur.

Sementara di UMI dan Universitas 45, dikabarkan juga terjadi bentrok dengan aparat. Tentara juga sudah mulai dikerahkan.  Dari aksi BBM ini, justru menjadi kesempatan isu menumbangkan rezim Orde Baru.  yel...yel...gulingkan Soeharto kerap digemakan aksi.

“Chaos kayaknya nih,” ujar benak saya.

Saya menemui Adi Aksan saat istirahat usai dipukul mundur aparat dari depan DPRD.  Nafas kami “ngos-ngosan” karena harus lari dari kejaran polisi. Dia kawan saya satu angkatan 93 di Fakultas Sastra Unhas. Bedanya, dia Sastra Asia Barat dan saya Sastra Indonesia.

Suasana tambah memanas usai aksi DPRD itu. Dikabarkan ada mahasiswa dari UMI ditangkap intelijen dan dibawa ke kantor polisi. Tak ayal, aksi di kampus UMI kian ricuh. Mahasiswa meminta mahasiswa dibebaskan. Bentrok tak bisa dihindari. Agak reda ketika ada kabar mahasiswa itu sudah dibebaskan.

“Cang, kita harus masuk kampus  UMI ketemu rekan-rekan untuk konsolidasi aksi,” ujar saya. Icang setuju. Namun untuk masuk kampus UMI memang tidak mudah. Karena aparat berjaga ketat.

Gerakan mahasiswa era itu, sudah terkonsolidasi antar kampus. Aktivis dari UMI, Universitas 45 dan Unhas, kerap melakukan aksi bareng.  Dari aksi  pengembalian nama Makassar dari Ujung Pandang, kasus cengkeh, hingga kasus penggusuran.

Posisi saya dan Icang-Sapaan Adi Aksan- sudah berada di sisi kiri dekat terminal yang bersebelahan dengan Kampus UMI. Dari situlah kami masuk kampus tersebut. Bertemu dengan aktivis UMI, Andi Selle. Saya langsung diarahkan ke salah satu gedung yang berada sisi sebelah kanan. Fakultas Teknik UMI.

Saya punya hubungan dekat dengan teman-teman UMI. Khususnya di kalangan aktivis pers kampus Cakrawala. Basis kekuatan demontran di UMI selain di pers kampus, kebanyakan anak-anak teknik. Disitu ada Selle, Zakir, Agus Baldie, dan lainnya.

Di dalam kampus, salah satu ruangan itu terlihat sepi. Ternyata disudut ruangan itu ada tangga putar naik ke lantai dua. Saya kaget, ternyata disitu sudah berkumpul para pimpinan mahasiswa dari berbagai fakultas. “Harus konsolidasi tertutup. Jangan disini. Tidak aman. Bisa bocor intel,” tutur Zakir Sabara. Dia aktivis UMI yang kerap aksi bersama.

Saya sarankan ada pertemuan khusus pentolan  mahasiswa setiap kampus. Dari i rapat pertemuan itu, disepakati aksi terus berlangsung sampai dicabutnya SK kenaikan BBM. Andi Selle dan Zakir serahkan kepada saya untuk dibuatkan pertemuan nanti malam.  Agar pertemuan aman dari intelijen, saya berikan oretan kertas alamat kost di Pondok Permai, Jalan Tamalanrea 7 berikut nomor telepon.

Usai dari situ, saya dan Aksan meninggalkan kampus UMI dan kembali ke kampus Unhas. Perut kami sudah kelaparan dan sangat lapar. Saya dikawal oleh mahasiswa UMI keluar kampus, karena khawatir ada insiden oknum mahasiswa yang menganggap kami intel.

Saya juga mendapat kabar, aksi mendukung gerakan mahasiswa di Makassar mendapat respon gerakan yang sama di Jakarta dari Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Saat itu, saya  menjadi karateker persiapan SMID di Makassar. Saya meminta SMID melakukan gerakan mengecam rezim dan nyatakan dukungan gerakan mahasiswa.

Setiba di Unhas, para pentolan senat mahasiswa sedang ada pertemuan. Saya diminta untuk hadir. Saya sempat menolaknya. Saat itu, aktivis formal kampus punya ego antar fakultas. Sehingga, aktivis non kampus yang lebih banyak bergerak menjadi provokator aksi. Kekuatan basis gerakan massa di Unhas berbasis  di pelantaran FIS, yakni dari Fakultas Sastra dan Fakultas Sospol, serta UKM Pers.

Saya akhirnya memutuskan datang ditemani Agung dari UKM Pers. Karena informasinya, pimpinan senat mahasiswa semuanya hadir. Disitu saya melihat  para sosok mahasiswa berpengaruh  dari setiap fakultas di Unhas  saya kenali. Ada Sapri Pamulu dari fakultas teknik, Wahyuddin Jalil dari fakultas hukum, Arqam Asikin dari Sospol, Asri Anas dari Fakultas Sastra, dan Syarkawi Rauf dari Fakultas Ekonomi.

“Rusman Manyu, bisa ceritakan bagaimana sebenarnya situasi aksi di UMI dan Universitas 45, supaya kita punya sikap atas nama kelembagaan Unhas,” tanya Arqam Asikin.

Saya menjelaskan semuanya. Dan saya juga menginformasikan akan tetap ada aksi demontrasi selama SK kenaikan BBM belum dicabut. Namun dari Unhas, hanya menghasilkan kesepakatan agar para senat mengkondisikan aksi jika memang diperlukan.

Saya melihat Agung tersenyum usai ada kesepakatan itu.   “Nggak jelas,” ujar benak saya. Saya langsung balik pulang. Hari jelang sore. Karena akan ada pertemuan lintas kampus di kostan.

Sekira pukul 18.30 Waktu setempat. Telepon kost selalu berdering. Mahasiswa yang ditunjuk mewakili kampus, menanyakan alamat dan tak lama  kemudian berdatangan. Malam itu, ada sekitar 8 orang mahasiswa. Beberapa mukanya saya kenali saat konsolidasi di Kampus UMI tadi siang.

Kamar kostan saya yang ukuran 3x3,5 meter itu sumpek. Asap rokok berebutan keluar kamar. Kipas angin gantung berukuran kecil, terseok-seok berputar. Kawan sekamar saya, Untung Prasetyo mengungsi ke kostan rekannya.

Dua jam konsolidasi. Banyak hal yang kami diskusikan. Semua pola gerakan mahasiswa kampus masing-masing dibeberkan. Dari tingkat kelompok preman, kelompok yang berusaha memancing kericuhan, kelompok mahasiswa keagamaan, hingga pers kampus yang saat itu menjadi andalan mengadvokasi gerakan.

Pertemuan itu disepakati, aksi terus berlanjut  hingga SK kenaikan BBM dicabut. Hindari bentrok dengan aparat keamanan. Kemudian aksi ini harus lebih besar dengan mengerahkan semua kampus se-Kota Makassar. Masing-masing perwakilan diminta berada di garis depan agar mahasiswa tidak disusupi intelijen. Untuk gerakan aksi kampus se-Indonesia, diserahkan ke saya.

Usai konsolidasi, saya rebahkan badan. Kasur kamar kusam jadi tumpuan badan yang lelah. Esok harus pagi. Was-was membayangkan apa yang akan terjadi.  Lampu kamar saya matikan. Lelah. Seharian berada di lapangan mengurusi aksi demontrasi.

Posting Komentar

0 Komentar