Bermula dari Gorontalo

Lambang SMID (tengah) diapit PPBI berbasis buruh dan STN berbasis Tani (Foto: Winuranto)

Kota itu terlihat sunyi. Panas di bulan Oktober 1994 cukup menyengat. Tak banyak kendaraan mobil atau motor yang melintas. Hanya andong atau derman atau bendi, kerap kita ketemui. Tak ayal, banyak kotoran kuda berceceran di jalan. Ada yang masih basah, banyak juga yang sudah mengering.

Kanan kiri jalan, antara rumah dengan rumput ilalang tak seimbang. Tanah kosong melulu. Pasarnya juga masih sangat “ndeso” alias kios-kiosnya terbuat dari kayu. Kebanyakan pedagang menghampar jualannya di tanah beralas koran atau potongan karung.

Itulah Gorontalo dulu. Kota kecil yang masih menyatu dengan Sulawesi Utara. Persisnya kota paling ujung mengarah Sulawesi Tengah. Dulu saya membayangkan kota itu seperti negara bagian Amerika Serikat, Texas. Di film-film masa itu, Texas digambarkan kota “koboi”. Kuda-kuda melintas, kotoran kuda, debu jalanan, panas menyengat.

Gorontalo adalah kota yang sangat kuat agama  Islam. Era itu, jika Anda berambut gondrong jangan coba-coba mengesankan ganteng. Justru di Gorontalo Anda akan kerap dicemooh oleh anak-anak mudanya. Siap-siap juga akan diteriaki sebutan, “Rampok”, “Penjahat”, dan kata jelek lainnya.

Ini saya alami saat hadiri pertemuan Mahasiswa Sastra Indonesia tingkat Nasional. Rombongan dari Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan merapat kapal lautnya tengah malah di Pelabuhan Kwandang. Begitu injak kaki pelabuhan, kami yang kebanyakan berambut gondrong langsung disambut teriakan dari  kuli pelabuhan.

“Woi....gondrong. Woi...gondrong. Ada rampok...ada rampok,” teriak para kuli bersahutan sambil tertawa. Saat itu kami belum sadar maksud teriakan itu.

Namun beberapa  harinya selanjutnya saat kami ingin nonton pertandingan sepakbola, perlakuan teriak gondrong terjadi lagi. Saya, Yahya, dan Arsyad Hakim yang memang berambut gondrong, lebih memilih diam. Tapi teriakan itu terus bersahutan. “Woi...gondrong...woi gondrong...” teriak anak-anak muda satu lapangan.

Kami bertiga terdiam dan baru sadar teriakan itu ditujukan ke kami. “Kita balik aja yuks. Malu tuh diteriakin,” tutur Yahya. Yahya dan Arsyad saat itu pengurus himpunan Sastra Indonesia angkatan 92. Sedangkan saya angkatan 93.

Dan di Gorontalo itulah, awal mula pemikiran gerakan mahasiswa mengoyang Presiden Soeharto secara nasional untuk basis Sulawesi Selatan. Adalah dua orang alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Yogyo dan Aulia. Mereka sudah bergabung dengan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Semarang.

Harusnya di Gorontalo kita banyak diskusi soal Bahasa dan Sastra, justru diselipi membangun gerakan mahasiswa bersama secara serentak. “Menghancurkan orde baru jangan bergerak sendiri-sendiri, bisa habis disikat militer kita,” tutur Yogyo.

Aulia dan Yogyo menginformasikan di SMID sudah ada di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. “Gerakan di Sulawesi Selatan cukup keras. Sulsel mesti ada SMID bung,” tutur Aulia.

Segempok dokumen SMID mereka berikan. Isinya AD/ART dan garis perjuangan SMID.  Saya membuka lembar demi lembar AD/ART. Isinya sangat keras menghujat orde baru. Ada tertera pada bagian Asas organisasi, tertulis: Berasal Sosial Demokrasi Kerakyatan.

Dan bagian sifat dan watak organisasi: berbasis massa dan bersifat terbuka. Kemudian berwatak Progresif dan Revolusioner. Sempat merinding membaca istilah revolusioner. Karena pada era itu, menyebut revolusi seakan berhadapan dengan “hantu” komunis.

Yogyo dan Aulia bergantian menjelaskan soal asas SMID yang tidak mencantumkan Pancasila. Karena sudah pasti dianggap makar. Juga soal watak dan basis gerakan yang berembel-embel revolusioner.

Panjang lebar mereka jelaskan. Saya masih belum mengerti. “Terlalu tinggi bahasanya,” ujar benak saya. “Pada intinya rejim harus dilawan pakai kekerasan,” ujar Yogyo. Yogyo dan Aulia mengatakan, akan mampir ke SMID Palu untuk konsolidasi gerakan dan menyerahkan dokumen penting lainnya.

Saya, Yahya dan Arsyad sempat mendiskusikan gerakan SMID dibawa ke Ujung Pandang (sebelum berganti Makassar ). Arsyad yang saat itu menjabat Ketua Himpunan menyatakan siap membantu. Yahya sebagai sekretarisnya hanya bisa mesem-mesem. Tapi pada intinya dia juga bisa membantu.

Saya sebagai orang pendatang dari Jakarta sempat was-was dengan gerakan SMID. Walau keturunan suku Bugis Luwu, saya khawatir ditentang banyak mahasiswa di Sulsel yang primodial atau kesukuannya sangat kuat. “Coba aja dulu, Man,” ujar Arsyad agar saya mengorganisir gerakan itu.

Waktu berlalu. Acara Gorontalo berakhir. Saya sempatkan mampir ke sekretariat SMID Palu di Jalan Tumbolotutu. Bertemu dengan kawan Echol dan lainnya. Mereka menyemangati agar SMID bisa berdiri di Ujung Pandang.  Mereka juga menginformasikan ada kawan Agus Baldie dari UMI yang sedang bergerak diam-diam dan menyarankan untuk bisa bertemu membangun basis antar kampus. Semua bermula dari Gorontalo.




  
      


Posting Komentar

0 Komentar