Wanita itu terlihat tegar. Berkacamata minus 1 ¾ selinder, bertubuh tinggi sekitar 1.70 meter, berambut sebahu dan badannya terlihat masih segar. Dia lebih banyak tersenyum. Di lehernya terlingkar tali berwarna hitam yang digantungi salib berwarna putih dipadu warna hijau.


Dia adalah Maria Enny, berusia 22 tahun. Akhir Januari lalu, sebuah situs berita di Jakarta memasang iklan short messenger system (SMS). Isinya; jual ginjal sehat, tidak ada penyakit menular, golongan darah B. Pembeli bisa menghubunginya ditelepon : 085612xxxx. Ternyata, gadis inilah yang memasangnya.

Benar. Gadis ini sedang berupaya mencari orang yang ingin membeli salah satu ginjal yang ada dalam tubuhnya. Dia tidak menduga, ternyata harga ginjal sama dengan satu unit mobil. Awalnya diperkirakan, harga rendahnya Rp10 juta dan harga termahalnya Rp20 juta.

“Ternyata harganya bisa mencapai ratusan juta. Wah…mahal juga ya. Bisa buat beli mobil sama rumah,” tutur dia, kaget.

Harga ratusan juga itu, diketahui setelah iklan ginjalnya dimuat. Beberapa hari dilacaknya di internet, ternyata jual beli ginjal bukan suatu yang aneh lagi. Dari situ pula, terbelalak dengan harga jualnya. “Ada yang jual Rp100 juta, bahkan ada yang jual dengan penawaran harganya sampai Rp500 juta,” ujarnya.

Dalam ilmu kedokteran, ginjal merupakan organ penting dalam tubuh yang berfungsi untuk membuang sampah metabolisme dan racun tubuh dalam bentuk urine atau air seni yang kemudian dikeluarkan dari tubuh. Bagian ini mempunyai pembuluh darah yang sangat banyak dengan fungsi menyaring atau membersihkan darah.

Tak aneh, harga ginjal melambung hingga ratusan juta. Karena bagi orang yang terkena penyakit gagal ginjal, maka harus melakukan terapi cuci darah rutin yang harganya juga relatif mahal. Apalagi, biaya untuk terapi cuci darah juga mahal ongkosnya.

“Katanya, manusia dengan satu ginjal masih bisa hidup sehat dan tidak memengaruhi kondisi tubuh. Jadi, ngak masalah saya hidup dengan satu ginjal,” ujar Maria.

Maria dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah. Dia anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya seorang lelaki yang kini menjadi pastur di Jakarta sambil kuliah. Sedangkan Maria bekerja menjadi pengasuh anak di Jakarta. Jejak pekerja itu diikuti juga oleh ibunya. Pengasuh anak.

Dari pekerjaannya sebagai pengasuh anak, setiap bulannya Maria menerima upah Rp900 ribu. Upah itu, kata dia, sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan orang tuanya. Untuk dirinya saja, kata dia, tidak terpenuhi. Namun, dia tetap berupaya mengirimkan uang untuk orang tuanya.

“Ibu terus ngak tega lihat saya. Akhirnya, ibu ikut juga ke Jakarta. Dan untungnya, ada majikan yang mau menerimanya. Lagi, ibu juga masih terlihat muda. Masih usia 42 tahun,” ujarnya.

Pertengahan tahun 2006, dia urban ke Jakarta. Ada panggilan bekerja sebagai pengasuh anak. Di Jakarta, Maria dan ibunya tinggal disebuah yayasan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Ayahnya ditinggalkan di Solo bersama istri mudanya. Sejak lahir, Maria tidak pernah mengenal ayahnya.

“Usia lima tahun, baru saya tahu wajah ayah,” tutur dia. Sejak dia tahu ibunya dihianati ayahnya, Maria marah dan tidak pernah mau bertemu. “Usia 17 tahun, baru saya merasa iba melihat kondisi bapak sendiri.”

Ayahnya, sudah tidak mampu lagi bekerja. Pernah bekerja sebagai supir bis antar provinsi Jawa Tengah-Jawa Timur. Nasibnya sial. Ayahnya kecelakaan yang menyebabkan kakinya lumpuh. Dengan kejadian itu, tidak menyerah. Kemudian menjadi pengojek motor beroda tiga. Lagi-lagi, sial. Kecelakaan kali dua dialaminya. “Sebuah bis menyerempet motornya. Semakin tidak berdaya,” cerita Maria.

Tidak kali itu saja Maria ingin menjual ginjalnya. Pada usia 18 tahun saat masih tinggal di Solo, Jawa Tengah, organ tubuh pentingnya itu pernah ditawarkan ke berbagai rumah sakit setempat. Namun, jawaban dari pihak rumah sakit, belum bisa memastikan.

Koran lokal harian ‘Solo Pos’ pernah memasang surat pembaca seseorang yang menginginkan ginjal sehat. Dengan pemberitaan itu, Maria langsung mengirimkan surat pembaca balasan yang bersedia ginjalnya dibeli. Sayangnya, surat balasan yang dilayangkannya tidak dimuat. Saat itu, dia bekerja sebagai pengasuh anak.

Ada alasan dia ingin menjual ginjalnya. Kalau laku, uangnya akan digunakan untuk memperbaiki rumah dan berdagang. Dia menginginkan, ayah dan ibunya bisa menikmati hidupnya tanpa bekerja dan hidup dengan rumah layak. “Tidak bisa berharap dari kakak. Karena, dia (kakaknya) sendiri hidupnya pas-pasan,” ujarnya lagi.

Maria menggambarkan, rumahnya paling tua dibandingkan rumah tetangga lainnya. Sejak dibelinya, belum pernah direnovasi. Hanya ada satu rumah tamu, satu tempat tidur dan dapur. Rumahnya berdinding batako dan beratap asbes. Walaupun layak ditinggali, dia iba melihat orang tuanya dengan rumah tua itu.

Sebenarnya, kata dia, ginjal yang dimiliki tidak serta merta dijualnya. Maria, rela jika ginjalnya harus didonorkan kepada orang lain. Namun dengan persyaratan, berasal dari keluarga miskin dan benar-benar sangat membutuhkannya. Jika yang membutuhkannya berasal dari orang kaya, maka ginjalnya harus dibayar dengan harga yang layak.

Beberapa cara sudah dilakukan untuk menawarkan ginjalnya. Beberapa rumah sakit, sudah dihubungi dan iklan gratis juga dilakukan. Dia bahkan berencana masuk ke internet-internet Indonesia maupun internasional untuk melakukan promosi ginjalnya. Jawaban dari pihak rumah sakit, kata Maria, selalu mengatakan, “Nanti dikabarin.”

“Saya tidak tahu, kenapa ada perasaan terus menerus agar dirinya tetap menjual ginjal. Padahal, sudah lama obsesi itu sempat hilang,” tuturnya.

Untuk obsesi menyenangkan orang tuanya, beberapa cara ditempuhnya. Salah satu media nasional di Jakarta pernah menulis kehidupan perempuan ‘kawin kontrak’ dengan warga negara asing yang bekerja di Indonesia. Berita itu, tutur dia, memaparkan tentang jaminan hidup jika masa ‘kawin kontrak’ berakhir.

Dia berangan-angan akan dibelikan rumah dan kebutuhan rumah tangganya akan dipenuhi. Tidak hanya itu saja, jika punya anak akan mendapat santunan dari warga asing itu. Nasib sial. Biro jasa yang mengatur kawin kontrak itu, ternyata menipu. Uangnya Rp3 juta lenyap.

“Katanya untuk urusan administrasi KUA sampai urusan tempat pertemuannya. Dijanjikan akan langsung dikawinkan dan tinggal di kawasan puncak, Bogor. Uang udah diserahkan, ngak ada kabarnya lagi. Dihubungi ngak pernah ada respon. Capek,” tuturnya.

Dia punya cerita dengan obsesi kawin kontrak. Suatu hari, ada iklan yang terpasang: Seorang bule membutuhkan istri untuk dinikahi. Dia mencoba menghubunginya. Ternyata, bukan bule yang dilihat. “Orangnya tinggi berkulit hitam dari Nigeria. Perutnya bucit dan menjijikkan,” ujarnya, tersenyum mengingat pengalaman itu.

Semua obsesi untuk hidupnya, kata dia, yang terpenting tidak menjual tubuhnya alias menjadi pelacur. Jual ginjal dan kawin kontrak menurutnya, tidak mengorbankan harga dirinya. “Saya tidak ingin sakit hati terlampau banyak, jika harus menjual kehormatan,” tuturnya.